Mengenal Kartini Bukan Kebaya dan Konde, Tapi Membaca Surat-Suratnya


para-aktifis-perempuan-saat-mengelar-aksi-damai-didepan-kantor-wali-kota-jekGadis yang pikirannya sudah dicerdaskan,pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunianenek moyangnya. – Kartini

 

Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patahkata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasigunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tiada dapat!” melenyapkanrasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncakgunung. – Kartini

 

Saya malu sekali memikirkan kepentingan pribadi. Sayaberpikir-pikir dan melamun tentang keadaan saya sendiri dan di luar, disekeliling saya demikian banyaknya orang yang hidup menderita dan sengsara.Seolah-olah udara tiba-tiba bergetar disebabkan oleh suara orang-orangmenderita di sekeliling saya yang menjerit, mengerang dan mengeluh. Lebih kerasdari suara mengerang dan mengeluh, terdengar bunyi mendesing dan menderau dalamtelinga saya: Bekerja! Bekerja! Bekerja!- Kartini

Peringatan Kartini baru saja berlalu, tapi tak berhenti bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang Kartini . Orde Baru berhasilmereduksi pemikiran dan perlawanan Kartini di masanya dengan kebaya dan konde.Peringatan Kartini tersebut berlangsung turun temurun dalam masyarakat, dari sekolah-sekolahhingga instansi pemerintahan, namun ditengah perayaan Kartini dengan memakaikebaya, konde, baju adat, lomba memasak, ternyata ada cara lain untuk mengenalKartini yaitu dengan membaca surat-suratnya.

12398_4700115027967_912237004_nYa, membaca surat-surat Kartini secara berantai adalah ideyang tepat untuk mengetahui siapa itu Kartini dibalik perdebatan feminis atautidak feminis, seorang perempuan bangsawan yang tak mau disebut Raden Ajengini. Ide membaca surat-surat Kartinimulai digulirkan sepanjang pekan perayaan Kartini kemarin dan mendapatkanrespon baik dari masyarakat. Faiza Marzoeki dalam pembukaan acara PembacaanSurat-Surat Kartini di Taman Ismail Marzuki (18/4/13), mengatakan orang mengenalKartini dengan perayaan kebaya dan konde tanpa pernah tahu apa isi pikiranKartini. “Kebaya dan konde tidak ada hubungan dengan pemikiran Kartini, karena Kartinisudah bicara masalah kemajuan perempuan jauh sebelum feminis-feminis Eropabicara soal perempuan”, tambahnya.

Cara ini juga dilakukan oleh kawan-kawan aktivis perempuandi Jogjakarta. Tepat di 0 kilometer (21/4/13), acara yang diberi judul malam untukKartini digelar. Masing-masing kawan dari perwakilan organisasi, PMII Kopri,KAMMI, Sarinah GMNI, Gema Hijabers Club, Komunitas perempuan NINAS Real Madrid,BEM STIKES Global Surya, JPY, KPO PRP, SMI, LPM Ekspresi, LPM Arena UIN,Perempuan Mahardhika, Komunitas kampus UAD, satu persatu secara bergilirkanmembacakan surat Kartini. Begitu pula dengan peringatan yang diselenggarakanKomite Aksi Perempuan dalam aksinya di Bundaran HI Jakarta, juga menyerukanuntuk membaca kembali surat-surat Kartini,yang tak hanya soal pendidikan sajamelainkan hak perempuan untuk bebas dari kekerasan dan diskriminasi.

Selain itu, pembacaan puisi dan kutipan surat untuk Kartinijuga diselenggarakan oleh Asosiasi Seni Kreasi Perempuan pada 21 April lalu.Kartini, memberikan inspirasi bagi perempuan untuk menuliskan puisi-puisitentang bagaimana kondisi perempuan hari ini. Sama halnya seperti Kartini yangpunya kegemaran menulis hasil buah pemikirannya untuk kemajuan perempuan. Surat-suratmenceritakan tentang penolakan Kartini pada poligami dan pernikahan;keinginannya untuk bersekolah ke Belanda sama seperti kakak-kakaknya yanglelaki dan mendirikan sekolah untuk kaumnya; bicara tentang kekerasan danagama; bagaimana perempuan dalam masyarakat jawa; jaminan hak kesehatan danpersalinan bagi kaum perempuan; bicara tentang nilai-nilai kemanusian danpembebasan dari kolonialisme.

Mengembalikan sejarah Kartini dari pergeseran makna yangsudah berkembang dimasyarakat adalah tugas kita untuk melanjutkan perjuanganKartini. Hal ini juga disampaikan kawan-kawan perempuan di Mojokerto dalamrefleksi Hari Kartini. Mengenal Kartini dengan mulai membaca surat-suratnyasatu demi satu dan merawatnya adalah cara untuk melawan pergeseran maknaperjuangan Kartini. Sehingga perayaan Kartini kedepan bukan simbolisasi padakebaya dan konde, layaknya perempuan jawa, namun peringatan Kartini adalahdengan membaca surat-surat Kartini. Dengan harapan kita menjadi tahu keinginanKartini untuk membebaskan kaumnya, lalu mengkontekskannya pada kondisiperempuan hari ini, dengan begitu kita sedang melanjutkan perjuangan Kartini.(*)

178757_620    541662_4741762069233_1544418339_n   901969_10151440887676985_919955197_o

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s