Komite Aksi Perempuan: “Harga Naik Tinggi, Sembako Tak Terbeli, Anak kami kurang gizi”


IMG_8995Belum berhenti keresahan rakyat  indonesia akibat kebijakan pemerintah yang menaikan harga Bahan bakar minyak (BBM)  kembali rakyat harus cemas dan mengencangkan ikat pingang lebih erat lagi karena situasi kenaikan harga komonitas pangan yang begitu tingg. Rakyat terancam harus mengurangi asupan gizi dan kualitas pangan akibat harga yang tidak terbeli. Kenaikan berbagai harga pangan di pasaran sesungguhnya telah terjadi sebelum kenaikan harga BBM terutama untuk beberapa komoditas yang mengandalkan import seperti daging sapi,bawang, buah-buahan bahkan sayuran. Kenaikan harga semakin meluas ke berbagai produk pangan lainnya sejak penetapan kenaikan harga BBM
Hari demi hari kenaikan harga sembako semakin tak terkendali. Daging sapi misalnya, saat ini di pasaran harganya sudah mencapai Rp 120.000,- per kilogram. Harga cabe pun menembus Rp 70.000,- per kilogram. Hal serupa terjadi pada barang-barang sembako lainnya seperti beras, telur ayam dan minyak goreng.

Bagi keluarga dan para ibu rumah tangga miskin tentunya hal tersebut adalah bencan, terlebih jelang lebaran. Alih-alih menikmati suasana haru biru dalam kebersamaan, para ibu rumah tangga miskin harus memeras pikiran untuk mengatur pengeluaran sedemikian rupa sehingga sedikit uang yang ada dapat memenuhi kebutuhan hidup seluruh keluarga.

Bagi buruh-buruh, kenaikan harga ini seperti peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Setelah merasakan pahitnya upah di bawah UMK/UMP akibat ajuan penangguhan upah oleh mayoritas pengusaha garmen dan tekstil, kali ini mereka yang mayoritasnya adalah perempuan harus kembali menanggung kesulitan karena dampak kenaikan harga pangan. Bagaimana mungkin upah yang hanya berkisar antara 1 juta rupiah hingga kurang dari 2 juta rupiah tiap bulannya dapat dipakai untuk membayar kamar kos, transport harian, mengirim ke kampung, makan sehari-hari dan berobat.

Selain menjadi kelompok yang paling rentan untuk ditangguhkan upahnya, buruh-buruh perempuan ini juga sangat rentan untuk di-PHK sepihak oleh pengusaha. Para buruh perempuan sangat rentan di-PHK karena dipandang bukan sebagai pencari nafkah utama, atau punya kesempatan untuk mengambil cuti panjang saat hamil dan melahirkan. Tidak terbayang bagaimana para buruh yang ter-PHK tersebut harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan hidup ditengah situasi kenaikan harga pangan yang terus naik.

Selanjutnya, kenaikan harga pangan yang semakin tinggi tersebut pastilah akan berdampak buruk pada pemenuhan gizi keluarga terutama anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan. Ketidaksanggupan untuk membeli daging, telur, beras, sayur dan buah-buahan segar akan mempengaruhi asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Saat ini, menurut data Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional tercatat lebih dari 8 juta anak Indonesia kekurangan gizi (www.tempo.co). Asupan gizi yang kurang menyebabkan anak akan gampang sakit, perkembangan tubuh anak hingga dewasa tidak optimal, dan kemampuan motorik rendah.

Impor daging sapi dan pemantauan pasokan harga pangan yang disebut oleh pemerintah sebagai kebijakan yang dikeluarkan untuk mengontrol kenaikan harga tidak bisa berjalan secara efektif. Hal tersebut tidak mengherankan. Bagaimana mungkin harga pangan bisa terkontrol jika pemerintah lebih memilih memotong subsidi BBM yang pastinya akan menyebabkan kenaikan transportasi dan inflasi di sektor lainnya.

Kebijakan impor pangan lebih rentan spekulasi dan justru berpotensi menghancurkan kedaulatan pangan dalam negeri. Kebijakan import juga berpotensi korupsi dan mempermiskin masyarakat. Pemerintah seharusnya menetapkan kebijakan yang lebih melindungi petani lokal dan memastikan proses distribusi pangan yang murah dan terjangkau oleh kelompok paling miskin di negeri ini.

Dalam situasi lonjakan kenaikan harga ini, pemerintah justru melakukan tindakan saling menyalahkan, padahal pemerintahlah yang harus bertanggungjawab atas kondisi ini. Maka pemerintah harus segera menetapkan standar harga kebutuhan sembako yang terjangkau untuk masyarakat. Penetapan harga tersebut harus terbuka, diketahui oleh seluas-luasnya masyarakat dan disertai dengan kebijakan yang memperkuat kedaulatan pangan nasional.

Tuntutan kami :

Melihat situasi di atas, maka kami dari Komite Aksi Perempuan (KAP) menuntut kepada pemerintah untuk :
1.  Dalam jangka pendek pemerintah harus sangup menurunkan harga-harga kebutuhan pangan, menetapkan standar harga yang terjangkau oleh masyarakat miskin, dan menjamin ketersediaan barang tersebut di pasaran.

2.  Memberikan dukungan penuh kepada kaum tani untuk memperoleh sarana produksi pertanian yang murah serta menjalankan reforma agraria sejati, bukan justru menyerahkan masalah pangan kepada korporasi yang mengejar keuntungan semata.

3. Kami mengajak seluruh kaum Ibu rumah tangga miskin yang merasakan dampak langsung dari kenaikan harga barang untuk Ayo bersama kita aksi turun ke jalan, menolak kenaikan harga sembako dan pangan!

Komite Aksi Perempuan (KAP):

Jala PRT, FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik), AMAN Indonesia, Perempuan Mahardhika, LBH Jakarta, KSPI (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia), Kaukus Pemimpin Buruh Perempuan, GSBI (Gabungan Serikat Buruh Independen), PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia), Jari PPTKILN, Magenta WRDA, TURC (Trade Union Right Center), Aliansi Sovi (Solidaritas untuk Luviana), Aspek Indonesia, Kalyanamitra, Cedaw Working Group, Kohati Cabang Ciputat, Jatam (Jaringan Advokasi Tambang), Wanita Hamas UNas, Institut Perempuan, SCN Crest (Semerlak Cerlang Nusa), FSPSI Reformasi (Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia), Solidaritas Perempuan, Kapal Perempuan, NLC (New Land Community), ATKI (Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia), FMKJ (Forum Masyarakat Kota Jakarta), KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia),  KPI Jakarta (Koalisi Perempuan Indonesia), UPC (Urban Poor Consortium), JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota), LBH Apik Jakarta.

http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/07/21/5/180614/Pemerintah-Dinilai-Gagal-Kawal-Harga-Sembako#.Uev3-fxSAJt.facebook

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s