Tak Bisa Tunggu Banyak Korban, Bagi Kami 1 Korban Kekerasan Seksual Harus Tuntas Kasusnya


nur halimah

Tak Bisa Tunggu Banyak Korban, Bagi Kami 1 Korban Kekerasan Seksual Harus Tuntas Kasusnya:
Segera Bentuk Sistem Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, Bangun Kekuatan Solidaritas Anti kekerasan seksual

Menjelang Konferensi Perempuan Jakarta, kami berduka atas bertambahnya lagi korban kekerasan seksual. Kami mengutuk keras atas meninggalkan kawan Nur Halimah, salah satu anggota Perempuan Mahardhika Makassar. Nur Halimah,kawan kami, seorang perempuan pandai dimana pertama kali kami mengenalnya saat terlibat aktif dalam kepanitiaan sekolah feminis angkatan I di Makassar sebagai kepala sekolah feminis I. Sampai pada kejadian yang dialami Nur Halimah, ia tetap memperjuangkan tubuhnya, mempertaruhkan nyawanya. Nur Halimah adalah korban perkosaan dan pembunuhan keji yang dilakukan oleh teman kerjanya sendiri.

Kami sangat marah ditengah perjuangan melawan kekerasan seksual, kawan kami menjadi korban. Tentu kejadian ini semakin menguatkan kami untuk terus memerangi kekerasan seksual. Hari demi hari, korban kekerasan seksual terus bertambah, dan tak sedikit yang berakhir pada kematian. Kejadian serupa dialami oleh bayi perempuan berusia 9 bulan berinisial AA meninggal dunia karena diduga mengalami kekerasan seksual. Pada waktu yang berdekatan pula, siswa kelas 2 SMA diperkosa oleh 9 polisi di Gorontolo. Sebelumnya, juga masih menumpuk kasus-kasus kekerasan seksual yang hingga kini belum ada satu penanganan serius yang dilakukan oleh pemerintah pusat untuk mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual. Ini bukti dari dominasi pikiran patriarkal yg meletakkan perempuan sebagai objek seksual. Selain itu tidak adanya satu mekanisme pencegahan tindak kekerasan seksual di masyarakat, dan tidak adanya sistem penanganan tindakan kekerasan seksual secara menyeluruh hingga pada level terkecil dalam masyarakat kita. 
Serangan terhadap tubuh perempuan akan semakin terus bertambah besar jika tidak ada sensitivitas masyarakat terdapat isu kekerasan seksual yang terjadi berulang kali dengan pola, pelaku, ruang yang sama. Korbannya bisa siapa saja, dari bayi hingga nenek. Dan pelakunya juga bisa siapa saja, dari orang dekat (keluarga, pacar, suami), bahkan paling banyak jumlahnya (lihat http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2013/03/Lembar-Fakta-Catahu-2012-_Launching-7-Maret-2013_.pdf), hingga orang yang tak dikenal sekalipun. Selama masih ada kesadaran masyarakat yang masih melihat perempuan sebagai obyek seksual, selama itu pula kekerasan seksual masih terus mengancam perempuan. Perempuan menjadi tidak aman untuk melakukan atau menyatakan sesuatu yang diinginkan dan tidak inginkan. Dalam kasus Nur Halimah, ia menjadi korban kekerasan seksual karena menolak cinta teman kerja dan akhirnya tubuh menjadi obyek penundukan. Sikap menolak (tidak inginkan) adalah hak dan tidak bisa seseorang diintimidasi, diserang bahkan dihilangkan nyawanya akibat penolakan tersebut, begitu juga sebaliknya.

Sudah! Tidak mau lagi berada dalam situasi pembiaran yang terus dilanggengkan. Berani untuk berkata “tidak” pada kekerasan seksual dan bertindak segera mungkin ketika orang terdekatmu mengalami kekerasan seksual, menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Dibutuhkan satu solidaritas bersama. Kali ini pada tindakan kongkrit sebagai wujud kemarahan dari kaum perempuan atas kekerasan seksual yang berulang kali, bahkan nyawa menjadi taruhan. Namun, dalam hal penghukuman terhadap pelaku, kami tidak menyepakati adanya hukuman mati. Hukuman mati tidak memberikan efek jera bagi masyarakat dan tidak menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kami meyakini, jika dibangun sistem yang mendukung perempuan, maka akan ada perubahan berfikir yang menghargai dan menghormati perempuan. Hukuman seberat-beratnya hingga menyesali perbuatan pelaku adalah hukuman yang tepat mengubah kesadaran patriakhis dalam masyarakat.

Dalam situasi duka ini, tentu menjadi pukulan yang sangat berat bagi keluarga korban dan orang-orang terdekat korban. Pertama, kami mengajak kawan-kawan untuk bersolidaritas dengan tidak menyebarkan foto-foto terkait perkosaan dan pembunuhan tersebut untuk menghormati perasaan yang sedang dihadapi keluarga dan kerabat korban. Kedua, dalam melawan kekerasan seksual, kami menyerukan:
1. Kekerasan seksual ini mendesak untuk diselesaikan dan dibangun sistem pencegahan dan penanganan secara sistematis dengan melibatkan partisipasi masyarakat hingga level terkecil.
2. Segera membangun kekuatan solidaritas anti kekerasan seksual dimanapun, kepada siapapun, terlebih pada kerabat terdekat. Karena siapa lagi yang akan menguatkan korban kalau bukan keluarga dekat, teman dekat, kerabat dekat.
3. Selain itu, kami mengajak kawan-kawan untuk melakukan aksi lilin bersama untuk Nur Halimah dan korban kekerasan seksual lainnya pada hari Rabu malam, 16 Oktober 2013, jam 19.00 – 21.00 wib.

Kejadian ini kembali mengingatkan kami bahkan kekerasan seksual harus segera dihentikan. Tidak bisa menunggu ratusan korban atau ribuan korban, tapi 1 korban kekerasan seksual, bagi kami harus dituntaskan kasusnya!

Panitia Konferensi Perempuan Jakarta
https://www.facebook.com/KonferensiJakartaMelawandanBebasKekerasanSeksual?ref=hl

Berita terkait Nur Halimah:
http://www.bonepos.net/2013/10/kakak-nur-halimah-adik-saya-bekerja.html?m=1

http://makassar.tribunnews.com/2013/10/11/ternyata-nurhalimah-diperkosa-saat-masih-hidup

Iklan

One thought on “Tak Bisa Tunggu Banyak Korban, Bagi Kami 1 Korban Kekerasan Seksual Harus Tuntas Kasusnya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s