Melawan Diskriminasi dan Membangun Ruang Bebas Ekspresi


Ulang tahun Pelangi Mahardhika I
Ulang tahun Pelangi Mahardhika I

Pada usianya yang genap menginjak satu tahun, Pelangi Mahardhika mengadakan acara ulang tahunnya yang pertama. Acara dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2014 di gedung Subdisnaker Semper – Jakarta Utara. Dalam acara ini mengundang beberapa organisasi LGBT dan non LGBT yang berada di Jakarta. Kegiatan ini diisi dengan berbagai rangkaian acara. Ada acara sambutan dari beberapa perwakilan organisasi, pembacaan puisi, hiburan, dan diskusi. Semangat solidaritas dan kekeluargaan tergambar dalam pelaksanaan acara. Segala rangkaian persiapan untuk pelaksanaan acara dikerjakan dengan sukarela dan penuh semangat kebersamaan.

Pelangi Mahardhika adalah organisasi LGBT yang berada di wilayah Jakarta Utara. Organisasi LGBT ini beranggotakan kawan-kawan dari buruh perempuan dari Kawasan Berikat Nusantar (KBN) Cakung. Banyak dari anggota Pelangi Mahardhika juga anggota dari Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP). Pelangi Mahardhika berdiri pada tanggal 5 Mei 2013. Jumlah anggota Pelangi saat ini kurang lebih berjumlah 30 anggota.

Acara ulang tahun ini tidak hanya bertujuan untuk perayaan namun juga berharap peserta yang hadir juga dapat memahami pentingnya solidaritas dan pembangunan gerakan. Pelangi berharap dapat menjadi wadah bagi teman-teman lesbian buruh untuk berjuang dan membangun gerakan LGBT serta gerakan perempuan. Oleh karena itu, dalam perayaan ulang tahun ini Pelangi mengundang beberapa teman-teman gerakan untuk memberikan sambutannya.

Pertama adalah dari Ketua Umum FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik), Jumisih. Dalam sambutannya, ia menekankan tentang pentingnya membangun kepedulian dan empati untuk mengalahkan ego demi membangun gerakan bersama untuk perjuangan gerakan. Membangun perjuangan LGBT yang bersolidaritas dengan perjuangan buruh. Kedua adalah sambutan dari Sekretaris Nasional Perempuan Mahardhika, Mutiara Ika Pratiwi. Ia menyampaikan Pelangi harus membangun keberanian untuk melakukan perubahan dan membangun gerakan. Kebersamaan dan solidaritas dari teman-teman Pelangi Mahardhika adalah kekuatan untuk melakukan perubahan. Dalam usia yang masih muda, di usianya yang baru satu tahun diharapkan Pelangi belajar membangun jaringan untuk memperkuat perjuangan gerakan.

Sambutan ketiga adalah dari Politik Rakyat, Vivi Widyawati. Dalam sambutannya Vivi mengatakan bahwa Pelangi Mahardhika dalam usia satu tahun harus membangun organisasi perjuangan dan pergerakan sebagai pondasi. Tidak takut dan Tidak malu mengatakan LGBT sebagai orientasi seksual. Membangun Pelangi menjadi bagian dari perjuangan buruh dan membangun kesadaran politik untuk memperjuangkan LGBT dari diskriminasi. Membangun terus mimpi dan harapan untuk terus menerus kita mewujudkan dalam upaya melawan diskriminasi dan ketakutan. Negara harus menjamin secara Undang-undang untuk LGBT dalam kesetaraan hak tanpa diskriminasi. Selalu membangun keberanian untuk perjuangan dan pergerakan dalam orgaisasi LGBT. Perjuangan ini untuk memperbesar dan memperluas pergerakan.

Terakhir adalah sambutan dari Koordinator Rakom Marsinah FM yaitu Dian Septi Trisnanti. Ia menekankan bahwa FBLP dan Radio Komunitas Marsinah FM akan berkomitmen untuk mendukung perjuangan LGBT. Sampai kapanpun kita akan terus mendukung perjuangan politik, LGBT, perempuan, dan buruh. Perjuangan LGBT masih tersekat karena situasi dari masyarakat yang belum mengakui keberadaan LGBT. Kami akan mendukung perjuangan politik, LGBT, perempuan, dan buruh sepanjang usia.

Setelah sesi sambutan, sesi selanjutnya adalah diskusi. Di dalam sesi diskusi ada tiga pembicara. Para pembicara tersebut adalah Jumisih FBLP, Yuli RustinawatiArus Pelangi, dan Jane Maryam Kontributor Suara Kita. Tema diskusi kali ini adalah Melawan Diskriminasi dan Membangun Ruang Kebebasan Berekspresi. Masing-masing pembicara menyampaikan materi yang berbeda. Setiap penyampaian materi dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh teman-teman buruh yang datang.

LGBT masih dianggap tabu oleh masyarakat, ini karena kesalahan negara yang tidak mampu memberikan jaminan dan pengakuan oleh negara. Agama juga tidak mengakui, bahkan menolak keras keberadaan LGBT. Hal tersebut disampaikan oleh Juminis. Selanjutnya, dia juga mengatakan bahwa Komnas HAM harus mampu memberikan konseling terhadap masalah- masalah yang di hadapi oleh kawan – kawan LGBT. Kebesaan demokrasi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk kebebasan berekpresi. Diskriminasi terjadi karena pemerintah, agama, agama yang tidak mengakui keberadaan LGBT. Norma dan batasan- batasan itu selalu menjadi batasan – batasan ekspresi gender bagi masyarakat. Media belum peduli dan belum mendukung terhadap pemberitaan dan keberadaan LGBT. Pelangi Mahardhika harus menjadi organisasi yang mampu berjejaring untuk membangun kekuatan bersama. Kekuatan bersama untuk berkampanye terhadap perjuangan hak-hak LGBT.

Para Pembicara
Para Pembicara

Pemateri kedua disampaikan oleh Yuli Rustinawati dari Arus Pelangi. Dalam presentasinya, ia menyampaikan bahwa Pelangi Mahardhika telah masuk menjadi Forum LGBT Nasional. Untuk pembanguna gerakan setidaknya harus menyelesaikan masalah – masalah internal. Didalam membangun relasi kesetaraan juga harus diterapkan dan ada. Jika pondasi –pondasi kecil sudah kita rebut, maka pergerakan dan perjuangan akan semakin yakin untuk bisa kita rebut. Gerakan LGBT sudah cukup tertinggal. Gerakan LGBT kembali menuntut kepada negara untuk hak atas pengakuan keberadaan LGBT. Hingga saat ini ada 123 organisai LGBT di Indonesia, pertemuan LGBT juga pernah dibubarkan oleh Islam pundamental pada tahun 2010. Pada tahun 2012 dan tahun 2014 telah diadakan konsolidasi bersama untuk forum LGBT. Munculnya kasus- kasus ditingkat LGBT bertujuan untuk menunjukan kepada negara agar negara mengetahui dan bisa memberikan perlindungan terhadap kaum LGBT. Perjuangan sekarang adalah terus berusaha mendobrak pintu – pintu untuk perlindungan dan pengakuan yang dilakukan oleh negara.

Pembicara terakhir adalah Jane Maryam dari contributor Suara Kita. Dalam materinya, Jane menyampaikan. Diskriminasi terjadi berawal dari keluarga. Keluarga merupakan lingkungan yang terkecil yang ada didalam lingkungan masyarakat. Keluarga adalah ruang pokok yang paling dasar dalam faktor internal untuk mendapatkan dukungan secara mental dan perlindungan. Sebelum ada agama masuk, orientasi gender yang berbeda sudah ada dan sudah diakui. Agama masuk menjadi kemunduran, karena tidak mengakui orientasi seksual yang berbeda. Ruang – ruang publik atau ruang – ruang formal harus bisa kita capai. Diskriminasi berasal dari prasangka yang ditujukan kepada orang lain atau kelompok lain. Secara di WHO dan persatuan psikologi menyatakan bahwa menjadi LGBT itu bukan penyakit. Kepercayaan diri terkadang yang membuat penghambat terhadap pengakuan atas pilihan orientasi seksual kita. Diskriminasi terjadi karena kita tidak berani melawan diskriminasi tersebut. Orang tua harus ada edukasi dari kita tentang orientasi seksual yang berbeda. Keberanian untuk menyampaikan dan berbicara kepada keluarga dalam memberikan penyadaran dan pemahaman agar kita bisa di terima di keluarga. Jangan rendah diri karena kita LGBT. Kita pantas dicintai dan mendapatakan penghormatan walaupun kita LGBT.

Di dalam sesi diskusi juga terjadi interaksi oleh peserta yang datang dalam acara. Ada beberapa pertanyaan yang muncul dari berbagai peserta yang datang. Lami yang merupakan anggota FBLP bertanya adakah peraturan dan perlindungan hukum yang diberikan oleh Negara untuk hak-hak LGBT? Selanjutnya, pertanyaan dari Adon yang merupakan anggota Pelangi Mahardhika. Dia bertanya, bagaimana dengan diskriminasi terhadap ekspresi gender yang selama ini masih terus berlangsung pada teman-teman LGBT? Bagaimana pula respon Negara terhadap keputusan WHO dan ILO yang sudah menyatakan bahwa LGBT bukan lagi penyakit jiwa?

Setelah Lami dan Adon, pertanyaan datang dari Lanang. Lanang menanyakan, kenapa FBLP ikut mendukung perjuangan kawan-kawan LGBT di sektor buruh, bagaimana dengan serikat buruh yang lain? Pertanyaan terakhir, datang dari Ari yang merupakan buruh KBN dan anggota Pelangi Mahardhika. Ia menanyakan apakah Negara kita sudah memfasilitasi dan mengakui perkawinan LGBT? Kalo belum, apa alasan kenapa begitu sulit pengakuan tersebut di dapat?

Dari berbagai pertanyaan tersebut, berikut adalah tanggapan dari keseluruhan pembicara. Sampai saat ini negara belum memberikan perlindungan dan pengakuan atas hak – hak LGBT yang di tuangkan dalam bentuk peraturan dan undang – undang. Walaupun LGBT adalah bagian dari HAM dan sudah di akui oleh WHO bukan sebagai penyakit, tetapi negara belum mampu dan serius untuk mengangkat dan membahas serius tentang LGBT dan menuangkannya dalam bentuk peraturan dan undang – undang sebagai wujud konkrit perlindungan untuk LGBT.

Menurut Jane menyatakan bahwa keputusan WHO dan ILO tentang keputusan yang menyatakan LGBT bukan penyakit merupakan acuan dasar untuk memaksa negara memberikan pengakuan dan perlindungan kepada LGBT dalam bentuk peraturan dan undang – undang. Pernyataan WHO dan ILO sebagai bentuk pengakuan atas HAM dan LGBT harus mulai berani menyatakan dan menegakan wajah bahwa kita mempunyai orientasi seksual yang berbeda. Kita harus tetap berani dan bangga meskipun kita LGBT. Kita sebagai LGBT harus berani melawan diskrminasi.

Tentang ekspresi gender dan diskriminasi kepada LGBT sampai ini masih dialami disebabkan karena tidak ada dukungan mental dan pengakuan dari keluarga. Tidak adanya pengakuan dari keluarga saat mengetaui kita LGBT membuat kawan – kawan LGBT tidak berani melawan diskriminasi itu. Negara juga tidak memberikan jaminan dan perlindungan terhadap LGBT, sehingga ekspresi gender tidak ada ruang – ruang yang di berikan untuk disampaikan serta di akui, Dan diskriminasi dibiarkan semakin meluas. Jadi untuk kawan – kawan LGBT harus berani merebut ruang – ruang kebebasan berekpresi untuk ekpresi gendernya.

FBLP mau dan ikut mendukung perjuangan kawan – kawan LGBT disektor buruh karena anggota FBLP ada yang LGBT. Sebagai serikat yang memperjuangkan kesejahteraan dan kesetaraan, maka FBLP tidak hanya berjuang untuk sesejahteraan dan kesetaraan bagi perempuan dan laki –laki, tetapi juga juga untuk kesetaraan untuk hak – hak LGBT di sektor buruh. FBLP melihat anggotanya ada yang bagian dari LGBT sebagai bagian dari perjuangan buruh.

Negara kita sampai saat ini belum memfasilitasi dan mengakui perkawinan LGBT. Perjuangan LGBT untuk adanya pengakuan terhadap perkawinan LGBT masih sangat berat dan bukan hal yang mudah. Banyak lembaga negara yang belum memahami tentang hak – hak LGBT meskipun WHO dan ILO sudah mengakui LGBT bukan penyakit. Keterlibatan agama yang memberikan rekomendasi untuk pengakuan atas perkawinan juga menjadi masalah yang harus di hadapi . Saat ini yang bisa dilakukan pasangan LGBT untuk hidup bersama adalah membuat kesepakatan dan perjanjian dalam menjalin hubungan untuk hidup bersama. Karena setiap warga negara berhak untuk membuat kesepakatan atau perjanjian.

Dari rangkaian cerita kegiatan di atas, maka kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa gerakan LGBT harus selalu di bangun untuk memperkuat gerakan perjuangan. Pelangi Mahardhika yang merupakan organisai LGBT dari sektor buruh, juga memiliki mimpi dan cita – cita yang sama dengan organisasi LGBT di sektor yang lain atas pengakuan dan kesetaraan hak bagi LGBT. Semakin sering dilakukan kegiatan diskusi, maka semakin dapat memperluas penyampaian pemahaman tentang LGBT dan masalah – masalah yang dihadapi. Perjuangan LGBT juga bisa membuka diri untuk menyatukan gerakan untuk terlibat aktif dalam perjuangan pergerakan di sektor yang lain. Ini sebagai salah satu strategi untuk membangun gerakan.

Tunduk ditindas, atau bangkit melawan

Sebab , diam adalah pengkhianatan

LGBT bersatu ,tak bisa di kalahkan

LGBT pasti menang

Diantara mereka yang takut, masih ada kami yang akan terus berani, diantara mereka yang mundur, masih ada kami yang akan terus maju, diantara mereka yang diam, masih ada kami yang akan terus bersuara, diantara mereka yang melupakan , masih ada kami yang akan terus menolak lupa dan akan terus mengingatkan bahwa kami kaum LGBT harus mempunyai hak sama sebagai warga negara, bahwa kami kaum LGBT rindu akan manusia yang memanusiakan manusia. (Thien K dan Tias W)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s