Konferensi Perempuan Jakarta: Lahirkan Relawan Jakarta Anti Kekerasan Seksual


Berangkat dari persoalan-persoalan kemanusiaan, tentang hak perempuan untuk memerdekakan dirinya dari konstruksi-konstruksi sosial yang dibangun oleh masyarakat yang justru malah mempersempit ruang gerak perempuan, dan mencoba menyuarakan ketidakadilan terhadap sikap dan perilaku orang-orang disekitar yang mencoba memperkosa situasi lewat pelecehan dan kekerasan seksual terhadap perempuan, perempuan- perempuan Jakarta bersatu dalam kegiatan Konferensi Perempuan Jakarta yang berlangsung di wisma PKBI- Jakarta Selatan (19/10/2013)

996632_631430976908917_2053868819_n

Lembaga Swadaya Masyarakat, NGO, Ormas dan institusi yang bergerak dibidang perempuan bersama- sama menyuarakan menolak kekerasan dan pelecehan seksual yang sudah sangat sering terjadi di masyarakat. Tidak hanya itu, kegiatan yang menghimpun hampir 200 peserta yag peduli terhadap kekerasan dan pelecehan seksual pada perempuan melakukan berbagai kegiatan dalam konferensi. Mulai dari kajian tentang melawan kekerasan seksual yang diisi oleh ibu Ita F. Nadia, Dian Novita dan Ratna Batara Munti, dan Pak Inang dari PKBI. Fokus pembahasan yang paling penting dalam diskusi ini adalah bahwa penyadaran dan pembelajaran tentang kekerasan harus menjadi yang paling penting. Tidak lagi hanya terkait persoalan yang dianggap sepele yang diselesaikan dengan jalur maaf-memaafkan tapi lebih kepada bagaimana setiap korban berlaku tegas terhadap setiap kekerasan dan pelecehan yang dia rasakan, yang jika didiamkan malah menjadi sebuah bentuk tindakan yang berlaku terus menerus.

Konferensi perempuan Jakarta juga melahirkan ide-ide cerdas melalui bedah kasus yang dilakukan pada sesi kedua. Dimana setiap peserta yang hadir diberi kesempatan untuk mengeluarkan gagasannya dan menceritakan juga apa yang seharusnya mereka inginkan dan apa yang seringkali mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Kenyataan bahwa masih banyaknya masyarakat yang seringkali menganggap remeh persoalan kekerasan dan pelecehan. Seperti yang disampaiakan salah satu peserta konferensi mengenai pelecehan yang pernah ia alami di bis Transjakarta, bahkan ketika dia protes dan mengadu pada teman-temannya, justru diangap suatu yang biasa terjadi dalam situasi yang ramai dan padat. Hal ini membuktikan bahwa masih kurangnya kepedulian masyarakat terhadap persoalan kekerasan dan pelecehan atau malah justru mentolerir dengan berbagai pertimbangan dan alasan. Sehingga ketika itu terjadi, sulit mengutarakannya, karena ujung-ujungnya, malah korban justru dipersalahkan saat mengganggap perlakuan tersebut tidak baik dan dianggap terlalu berlebihan.

Mengingat bahwa kekerasa dan pelecehan seskual memang harus di kampanyekan, bukan dalam moment- moment penting saja, namun harus secara berkala dan terus menerus disuarakan, seluruh peserta yang berasal dari berbagai institusi dalam konferensi perempuan Jakarta ini sepakat melahirkan sebuah gerakan yang di bentuk saat acara konferensi berlangsung dengan nama “relawan Jakarta anti kekerasan dan pelecehan seksual” yang rencananya akan di launching pada 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan” yang berlangsung bulan November yang akan datang.

Harapannya, kampaye anti kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya dirasakan pada lapisan masyrakat tertentu saja, namun juga dipahami dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga terwujud Jakarta yang anti kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan.****(Oleh: Grasia Renata Lingga)

Sumber : http://www.kalyanamitra.or.id/2013/10/konferensi-perempuan-jakarta-lahirkan-relawan-jakarta-anti-kekersan-seksual/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s