Arsip Tag: pilpres 2014

SURAT UNTUK JOKOWI


Selamat datang dalam pertarungan kami, bung.

Pagi ini saya membaca pidato pertama anda sebagai Presiden Republik Indonesia. Tentu lebih bergigi ketimbang pidato SBY. Saya senang anda yang lebih banyak dipilih rakyat, karena yang satu telah sejak awal seharusnya tak jadi calon presiden. Sayang, dia juga cukup banyak dipilih rakyat.

Zely Ariane

Bung, pilpres boleh usai, dan bung himbau para pendukung, rakyat dari berbagai jenis penghidupan, untuk kembali pada kehidupan sehari-hari, kerja seperti biasa. Memang bung, 2 bulan terakhir ini menguras energi bagi siapapun yg terlibat pilpres ini, tetapi persoalan mayoritas penghidupan rakyat sudah lama memeras energi, khususnya bagi rakyat yg sedang melawan kesengsaraan. Saat ini, tak sedikit diantara mereka, setelah berjuang mendukung bung, belum bisa pulang dan tenang. Mereka masih harus dan sedang berjuang karena THR belum dibayar perusahaan, kontrak kerja diputus sepihak sebelum lebaran, pabrik semen belum angkat kaki dari Rembang, brimob belum ditindak dari represinya pd petani dan warga Teluk Jambe Karawang, harga2 naik dan tarif angkutan lebaran memeras habis THR yg tak seberapa, para pengungsi Syiah yg tak berlebaran di kampungnya, umat Ahmadiyah yg tak bisa ibadah puasa dan lebaran dgn tenang. Juga korban pelanggaran dan pejuang HAM yg msh terus menuntut agar para pelanggar HAM tak lagi sumringah di hari lebaran bebas dari hukuman, tak marah2 minta pemilu ulang. Mereka semua, rakyat pejuang, masih berlanjut berjuang, bung. Mereka belum bisa pulang dan kerja dengan tenang.

Bung, politik memang seharusnya kegembiraan. Tetapi tidak di dalam masyarakat dimana yg berduit dan bersenjata pegang kendali, hukum yg belum melindungi orang2 tak punya uang, membebaskan para pelaku kekerasan terhadap perempuan, meminta orang2 susah terus bersabar dan terus toleran sementara yg berduit terus diberi konsesi. Tidak ada kegembiraan politik dalam keadaan seperti itu. Kalaupun ada, itulah harapan, dan masih belum menjadi kenyataan.

Bung, politik pembebasan yg bung sebut semalam itu berkonsekuensi besar dan indah bila berani dijalankan. Ia membutuhkan sikap yg berpijak pada mayoritas rakyat yang dilanggar hak azasinya untuk hidup layak dan mendapatkan keadilan; yg mendengar semua protes, masukan, gugatan sejarah, orang-orang yang sudah lama melawan ketidakadilan dan penindasan; yg berbicara lebih banyak dan lantang bukan pd kami, tetapi kepada Bank Dunia, IMF, ADB, kepala pemerintahan negara2 adidaya, korporasi trans/multi/nasional, KADIN dan APINDO, serta administratur negara; yg bertindak lebih berani mengontrol para pemegang kekayaan dan kebijakan, dan membela para pekerja biasa. Politik pembebasan adalah cara sehingga cita2 konstitusi yg baik dapat diwujudkan, dan yg belum ada dalam konstitusi dapat ditambahkan. Revolusi mental yg bung tawarkan tak jadi apa2 tanpa politik pembebasan.

Bung, kedepan ini adalah pertarungan. Boleh saja sambil bergembira, tetapi waktu tak memberi kita kemewahan dan banyak jeda untuk merasakannya. Persatuan Indonesia itu setelah kemanusiaan yg adil dan beradab. Ketika kemanusiaan kita semua dirampas oleh kuasa org2 terkaya, jenderal2 pengendali senjata, korporasi2 terkaya di dunia, institusi2 keungan global yg sdg mendikte ekonomi kita, maka persatuan Indonesia yg sebenarnya masih harus diperjuangkan. Kita tidak bisa bersatu dengan elit-elit koruptor, penjahat HAM, dan korporasi kriminal. Sudah terlalu lama rakyat berkorban dan sengsara untuk mereka.

Seperti kata anda, bung: singsingkan lengan baju dan kerja, seperti kami yg tak sempat melepas gulungan kemeja, bahkan berpakaian layak, karena selalu bekerja. Kerjalah lebih keras bung, kami juga. Buat garis pembatas bung, karena yang memilih anda tak mau hidup rukun dan harmoni dengan para koruptor dan penjahat HAM. Penjarakan mereka segera. Jika bung belum berani, kami akan melawan lebih keras.

Kalau bung tahu sedang berada di sarang buaya, maka anda tak akan lebih banyak mendengarkan para buaya. Jalur-jalur pendengaran baru sudah dibuka oleh para relawan anda; jalan setapak baru sudah dibuka oleh rakyat yg berlawan di sekeliling anda dan dunia. Kini bung yg harus memilih: mendengar siapa dan berpijak dimana? Kami tak bisa, dan tak akan, menunggu terlalu lama.

Salam dua kaki.

Zely Ariane